LALOK DI SURAU…. KEBUDAYAAN MINANG YANG MULAI DITINGGALKAN

Surau merupakan sebutan tempat ibadah untuk masyarakat muslim yang berada di kampung. Surau biasanya dibangun di tepi-tepi sungai dan di ujung desa yang bertujuan agar umat menjaga kekhusyukan dalam menjalankan ibadah. Selain itu, surau juga dijadikan sebagai identitas umat Islam di perkampungan Minangkabau. Selain sebagai tempat beribadah, surau juga merupakan tempat persinggahan dan istirahat bagi para musafir. Mereka memanfaatkan surau-surau yang ada di setiap kampung tersebut untuk menyebarkan agama Islam dan berbagi pengalaman hidup. Surau juga sering dimanfaatkan sebagai tempat mengaji bagi anak-anak dan remaja.

 

Tujuan utama dari lalok di surau adalah mengajarkan para remaja untuk menjadi muslim sejati. Tidak hanya itu, seorang anak laki-laki yang berusia sekitar 6-7 tahun sudah diwajibkan untuk lalok di surau dan itu telah menjadi budaya di masyarakat Minangkabau sejak dahulu. Kegiatan mereka ini dimulai dengan dengan sholat Maghrib berjama’ah, setelah itu dilanjutkan dengan mengaji, dan mendalami ilmu agama Islam yang biasanya diajarkan oleh Ustadz di kampung. Setelah sholat Isya berjama’ah, barulah para remaja mempelajari tafsir Al-Qur’an. Dan bagi yang lebih dewasa, mereka diajarkan pencak silat, lalu mereka beristirahat. Para remaja ini juga biasanya melaksanakan sholat Subuh berjama’ah, lalu barulah mereka pulang ke rumah masing-masing. Kegiatan tersebut bertujuan untuk menanamkan sifat mandiri dan disiplin di dalam diri masing-masing remaja. Selain itu, kegitan ini juga mengajarkan cara menghargai sesama dan bersosialisasi.

 

Sayangnya, saat ini kebersamaan seperti itu telah sulit ditemukan. Meskipun ada, tetapi kondisi fisik dan fungsi surau telah jauh berbeda. Bahkan, tidak banyak lagi remaja yang melakukan lalok di surau. Dengan semakin berkembangnya zaman, tanpa kita sadari keberadaan surau mulai ditinggalkan. Padahal, kebudayaan semacam ini haruslah dilestarikan.

 

http://gentaandalas.com/lalok-di-surau-budaya-minang-yang-mulai-ditinggalkan/

 

Menurut analisis saya, hal tersebut mungkin saja ada pengaruhnya dari budaya luar yang berefek ke diri para remaja tersebut. Sebagai contoh adalah kini sebagian besar para remaja lebih sering menghabiskan waktunya dengan gadgets life style dimana mereka hampir selalu menggunakan fasilitas canggih yang ditawarkan di era teknologi sekarang, sehingga mereka sedikit melupakan budaya tersebut.

 

Menurut saya, solusi untuk mengatasi hal tersebut, yang terpenting adalah menyadarkan para remaja tersebut betapa pentingnya ilmu agama dan silahturahim antar sesama. Lalu dari segi properti, adalah dengan memperbaiki kembali sarana dan prasarana surau-surau yang rusak agar lebih menarik lagi, dan diisi dengan kegiatan hiburan tanpa menghilangkan unsur agama seperti bermain marawis untuk para remaja tersebut.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s